LENSAPANGANDARAN.COM – Penyakit campak bukan sekadar demam atau ruam biasa. Infeksi akibat virus campak atau morbillivirus ini sangat mudah menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak yang belum memiliki kekebalan tubuh.
Dokter Spesialis Anak RSUD Pandega Pangandaran, dr. Dyah Rahmawanti, Sp.A, menjelaskan campak umumnya diawali gejala yang menyerupai flu. Orang tua perlu mengenali tanda-tandanya agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat.
Gejala campak antara lain demam tinggi hingga 39–40 derajat Celsius, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam merah pada kulit. Salah satu tanda khas lainnya adalah munculnya bintik putih kecil di bagian dalam rongga mulut.
Campak Sangat Mudah Menular
Virus campak menyebar melalui udara dan saluran pernapasan. Penularan dapat terjadi ketika penderita batuk atau bersin dan mengeluarkan percikan dari hidung maupun mulut.
Virus campak juga dapat bertahan dan melayang di udara hingga sekitar dua jam. Karena itu, penularan dapat terjadi dengan cepat di lingkungan yang memiliki kontak erat.
Penderita campak diketahui sudah dapat menularkan virus 2–4 hari sebelum ruam muncul. Risiko penularan masih berlangsung selama ruam campak terdapat pada kulit.
Kelompok yang Rentan Terinfeksi Campak
Kekebalan terhadap campak dapat diperoleh melalui vaksinasi, infeksi alami setelah sembuh dari campak, maupun kekebalan pasif yang berasal dari ibu kepada bayi.
Namun, sejumlah kelompok lebih rentan terkena campak, terutama anak yang belum memperoleh imunisasi lengkap dan mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah, termasuk anak dengan kondisi gizi buruk.
Remaja dan orang dewasa muda yang belum pernah mengalami campak serta belum mendapatkan perlindungan imunisasi secara lengkap juga berisiko terinfeksi.
Pengobatan Campak Bersifat Suportif
Hingga kini, tidak terdapat obat khusus yang secara langsung membunuh virus campak. Penanganan pasien umumnya dilakukan secara suportif untuk mengurangi gejala dan membantu proses pemulihan.
Pasien dianjurkan mendapatkan istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan untuk mencegah dehidrasi, serta menggunakan obat penurun demam sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Pemberian vitamin A juga dapat dilakukan berdasarkan rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan.
Waspadai Komplikasi Campak
Campak dapat menimbulkan komplikasi, terutama apabila terjadi pada kelompok rentan. Beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai antara lain infeksi telinga, pneumonia atau infeksi paru-paru, ensefalitis atau peradangan otak, hingga gangguan penglihatan.
Karena itu, orang tua perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila anak mengalami demam tinggi disertai gejala batuk, pilek, mata merah, dan ruam yang mengarah pada campak.
Imunisasi MR Jadi Pencegahan Utama
Pencegahan campak dilakukan terutama melalui imunisasi. Vaksin MR (Measles-Rubella) memberikan perlindungan terhadap campak dan rubela.
Dalam program imunisasi anak di Indonesia, vaksin MR diberikan secara bertahap. Dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan, kemudian dosis berikutnya pada usia 18 bulan. Penguatan perlindungan diberikan saat anak memasuki sekolah dasar, yaitu melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kelas 1 SD.
Imunisasi lengkap menjadi langkah penting untuk membangun kekebalan dan mengurangi risiko penularan serta komplikasi campak pada anak. (®)










