HiburanNasionalNewsWisata

Cerita Dua Kupu Kupu Malam di Pangandaran, Terjepit Ekonomi, Bertahan di Dunia Malam

×

Cerita Dua Kupu Kupu Malam di Pangandaran, Terjepit Ekonomi, Bertahan di Dunia Malam

Sebarkan artikel ini

LENSAPANGANDARAN.COM – Gemerlapnya kawasan wisata Pantai Pangandaran, Jawa Barat, tidak selalu menyimpan cerita liburan dan kebahagiaan.

Di balik ramainya wisatawan, ada kisah pilu dua wanita muda asal Jakarta Barat yang terpaksa menapaki dunia malam demi bertahan hidup.

Baca Juga  Aquarium Indonesia Pangandaran Sudah Dibuka, Segini Harga Tiket Masuknya

Dua wanita tersebut, sebut saja Melisa (25) dan Resa (26) (nama samaran) yang sudah sekitar sepuluh hari berada di Pangandaran.

Keduanya datang bersama seorang teman yang menawarkan pekerjaan di dunia hiburan malam di kawasan wisata Pantai Pangandaran.

Awalnya, memang mereka berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun kenyataan berbicara lain.

Baca Juga  Korban Tenggelam di Pantai Madasari Pangandaran Ditemukan Sudah Tidak Bernyawa

Dengan keterbatasan pendidikan, minimnya keterampilan, dan desakan ekonomi membuat mereka terjebak dalam pekerjaan sebagai lady companion (LC) di tempat karaoke.

Bahkan, kadang mereka melayani pria hidung belang yang berkeliaran di kawasan wisata Pantai Pangandaran.

“Kalau jadi LC, satu jam dibayar Rp 100 ribu. Tapi kalau diminta cek in, paling kecil Rp 500 ribu sekali,” ungkap Melisa, Sabtu (31/1/2026) malam.

Baca Juga  Meski Diterjang Isu Megathrust, Kunjungan Wisata di Pangandaran Tetap Stabil

Melisa mengaku terpaksa menjalani pekerjaan itu karena belum mendapatkan pekerjaan lain. Ia adalah anak sulung dan menjadi tumpuan keluarga.

Kondisi ekonomi orang tuanya yang disebut jauh dari kata cukup membuat Melisa harus memutar otak demi mendapatkan penghasilan.

“Apalagi saya sudah janda dan punya satu anak. Mau tidak mau harus pintar-pintar cari uang,” jelasnya.

Baca Juga  Diduga Melakukan Asusila, Satu Kupu-kupu Malam di Pangandaran Diamankan Satpol PP

Senada dengan Melisa, Resa juga datang ke Pangandaran setelah mendapat informasi dari satu temannya.

Menurutnya, kawasan wisata menjadi tempat yang menjanjikan karena banyak wisatawan dari luar daerah yang datang untuk berlibur.

“Saya cuma lulusan SMA, tidak punya skill. Cari kerja yang bagus itu susah. Akhirnya, saya pilih jadi LC,” ungkapnya.

Baca Juga  Tingkatkan Minat Baca, Anak-anak di Pangandaran Ikuti Lomba Bercerita

Sebagai LC, Resa dituntut untuk bisa beradaptasi dengan dunia malam mulai dari bernyanyi, menemani tamu, hingga mengonsumsi minuman keras.

Tarif yang diterima pun sama, Rp 100 ribu per jam. Namun, tak jarang Ia juga menerima panggilan lain di luar karaoke.

“Lebih seminggu di sini, saya sudah dua kali dapat panggilan. Sekali bisa Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta,” kata Resa.

Meski terlihat tegar, Resa mengakui bahwa pekerjaan itu bertentangan dengan suara hatinya. Ia merasa terjebak oleh keadaan.

“Dari hati kecil, sebenarnya saya tidak mau kerja seperti ini. Tapi kan kondisi ekonomi keluarga belum stabil,” ungkap sedihnya.

Baca Juga  Hujan Deras, Akses Jalan Nasional di Pangandaran Terputus

Resa merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia mengaku kerap dihantui rasa takut jika suatu hari keluarganya mengetahui pekerjaan yang Resa jalani.

Masa depan pun menjadi bayang-bayang yang mengusik pikirannya. Karena, Ia pun mengaku ingin hidup normal seperti orang pada umumnya.

“Saya di Jakarta sudah menikah, tapi sudah lama pisah ranjang. Kadang bingungjuga harus bagaimana ke depannya,” ucap Resa. (®)


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (0) in /home/lenc9662/public_html/wp-includes/functions.php on line 5481